Litani Sang Teratai
Karya: Adhila Akhbar ArohminRiak air berbisik lirih,
tentang lumpur yang kelam;
menyelimuti sekujur ragaku,
di rawa yang tekun membungkam.
Aku tegak seorang diri,
di pelukan bumi pertiwi;
berbekal serabut akar,
tempat kutambatkan sabar.
Dahulu embun mataku luruh,
di ujung daun yang rapuh;
menyemai asa di balik lumut,
saat ragu bertunas di lutut.
Dinginnya rawa merambat sunyi,
menggigil hingga ke relung diri;
hari-hari kutelan tanpa suara,
hingga utuh menemukan maknanya.
Remuk dalam musim yang panjang,
aku nyaris luruh perlahan;
namun kupinum sabar diam-diam,
meski lumpur tak pernah hilang.
Hingga musim mengajariku mekar,
kelopak demi kelopak belajar sadar;
tak lagi malu pada lumpur,
sebab di sanalah akar bersyukur.
Kini teratai itu berbunga,
lebih bening dari yang kukira;
bukan sebab luput dari luka,
melainkan setia bertumbuh bersamanya.
Trenggalek, 29 Juli 2026