Jejak yang Tak Bersuara
Karya: Syafira Izatul ZahroHujan di atap seng bukan sekadar air,
melainkan gema langit
yang meminjamkan duka kepada bumi.
Setiap tetesnya mengalun lirih,
membawa memori
yang merembes di celah-celah waktu.
Di beranda senja,
kutitipkan sepotong langit yang tak lagi utuh;
angin membawanya berkelana,
sementara sukma belajar
memeluk sepi tanpa meminta iba.
Waktu mengalir laksana sungai
yang tak pernah berpaling ke hulu,
menyeret jejak
yang pernah kujaga sepenuh jiwa.
Namun, di balik segala yang luruh,
masih berdenyut secercah cahaya.
Sebab,
tidak setiap yang jatuh berarti binasa;
ada yang memilih luruh
agar langit kembali mampu
melahirkan pelangi.
Malang, 14 September 2026