Hutan raga
Karya: Regi RajmaAwan gulita hinggap di kedalaman mataku,
rintiknya meluruh satu per satu,
seolah alam sengaja melahirkannya,
sebagai pemadam akan segala bara
yang kini merajalela di hutan raga.
Namun, sayangnya,
butir halus air mata tak cukup mampu
memadamkan api yang mengganas tak terkendali,
maka biarlah ia menari sendiri hingga mati.
Namun andai saja tak kau sulut jelaga kala itu,
maka badai yang terlahir dari bibirmu
tak akan merobek jiwaku hingga binasa.
Andai saja takdir berkata iya,
mungkin tangisku tak akan sampai pada hari ini,
dan bukan awan gulita yang hinggap di mataku,
namun rona pelangi yang begitu jelita,
terpantul sempurna dari sepasang mata mungilmu, cintaku.
Ah, sialnya,
aku terlalu gemar berandai
tentang apa yang tak mungkin ada,
sebab percuma berkata semoga,
jika memang bukan aku jawabannya.
Cianjur, 15 september 2026.