Di Balik Toga Itu
Karya: Rahmat HidayatHari itu,
langit seakan ikut tersenyum.
Keluarga berdatangan membawa bahagia,
bunga-bunga menjadi saksi,
dan toga menjadi mahkota
dari panjangnya perjuangan.
Namun, aku berdiri di sudut,
sendiri bersama sunyi.
Tak ada tangan yang menggenggam,
tak ada suara yang memanggil namaku.
Kukira, itulah hari yang kutunggu.
Ternyata, aku hanya sedang memeluk mimpi.
Aku masih di pertengahan perjalanan,
mengejar hari ketika Mama dan Papa
duduk menyaksikan keberhasilanku.
Meski langkahku sering tersandung keadaan,
meski doa menjadi satu-satunya kekuatanku,
aku tak akan berhenti.
Sebab, aku percaya,
mimpi adalah benih yang tumbuh
meski ditanam di tanah penuh luka.
Dan suatu hari nanti,
aku ingin berkata:
“Mama, Papa,
akhirnya toga itu menjadi nyata.”
Gorontalo, 10 September 2026