Perempuan di Ambang Nestapa
Karya: Karin ApriliaSeribu lirih mengendap di sukma.
Isak beranak-pinak, menjelma nestapa.
Rintiknya ia pungut satu-satu,
lalu disimpan pada palung waktu.
Di bawah temaram, tangis bersemayam, menjadi duka yang enggan padam.
Ia diam, bukan sebab reda,
melainkan pedih telah kehilangan suara.
Di dadanya, gerimis enggan berkesudahan.
Setiap tetes menyimpan sebilah kenangan.
Ia merawat luka dengan jemari yang lara,
sebab tak semua pedih pandai berkata-kata.
Apabila nanti senja menua di ufuk,
rintiknya luruh menjadi riwayat yang mabuk.
Tak ada lagi isak yang mencari muara.
Hanya sunyi, mengabadikan pedih dalam aksara.
Barangkali kelak, di ujung nestapa.
Segala lirih menjelma mahakarya.
Dan bila dunia bertanya perihal tangisnya,
biarlah sunyi yang mengeja jawabnya.
Bekasi, 13 September 2026