Ketika Air Mata Menjadi Bahasa
Karya: Josi KelmantKetika kata-kata kehilangan suara,
air mata menjelma bahasa yang paling jujur.
Ia mengalir lirih di antara pipi dan sunyi,
laksana hujan yang luruh
dari langit yang lelah memeluk mendung.
Ada luka yang enggan bersua dengan kata,
ada rindu yang tersesat di jalan pulang,
dan ada perpisahan yang diam-diam
menetap di relung hati.
Aku tersenyum di hadapan dunia,
menyembunyikan badai di balik ketenangan,
seolah tak ada kepedihan yang singgah.
Padahal, di balik senyum yang sederhana,
hatiku sedang merawat serpihan kenangan.
Biarlah malam menjadi selimut bagi tangisku,
dan bintang menjadi saksi bisu.
Sebab terkadang, air mata berkata lebih dalam
daripada ribuan kata yang tak terucapkan.
Medan, 11 September 2026