Hujan di Dalam Dada
Karya: Fadly ArosyidPernahkah kau tersenyum ketika hatimu patah?
Menundukkan wajah agar luka tak terbaca?
Memeluk sunyi ketika dunia bertanya,
“Baik-baik sajakah engkau di sana?”
Ada luka yang terlalu dalam untuk dikisahkan,
ada pedih yang terlalu berat untuk diucapkan.
Maka sepasang mata memilih menjadi jawaban,
mengalirkan segala rasa yang lama disembunyikan.
Bening perlahan mengalir di pipi,
seperti hujan yang jatuh tanpa permisi.
Ia membawa luka yang lama terkunci,
meninggalkan lega meski perih belum pergi.
Tidak semua luka meminta penawar,
tidak semua duka harus diumbar.
Ada sakit yang cukup dipeluk sabar,
hingga waktu perlahan mengajarkan tegar.
Jika malam ini dadamu terasa sesak,
biarkan bening itu jatuh tanpa jarak.
Sebab hati pun memiliki batas untuk retak,
dan manusia tidak selamanya harus tampak kuat.
Kelak, ketika fajar membuka cahaya,
kau akan memahami makna dari setiap air mata.
Bahwa luka bukan alasan untuk menyerah,
melainkan jalan untuk mengenal arti tabah.
Dan bila bening itu kembali jatuh,
jangan buru-buru menyebut dirimu rapuh.
Mungkin, di balik hati yang pernah runtuh,
sedang tumbuh seseorang yang jauh lebih teguh.
Luwuk, 10 September 2026