Tawa yang Pulang Kepada Sunyi
Karya: Eka Dhini PratiwiDi ambang pagi, tawa pernah bersemi
seperti embun yang menyimpan cahaya
di kelopak waktu
Ia tumbuh dari dada-dada
yang menyembunyikan musim patah
menjelma burung kecil
yang mengitari langit tanpa arah
Manusia tertawa—
bukan selalu karena bahagia
melainkan sebab beberapa luka
terlalu tua untuk diterjemahkan
oleh bahasa
Lalu waktu datang
dengan telapak dinginnya
memungut satu demi satu
suara yang pernah kita kira abadi
Riuh perlahan menjadi gema
gema menjadi bisu
dan bisu menemukan rumah
di dasar ingatan
Barangkali begitulah tawa:
cahaya yang tahu
kapan harus padam
namun meninggalkan pijar
pada wajah-wajah yang pernah disentuhnya
Hingga pada akhirnya
setelah menempuh lorong musim
dan kehilangan
ia menanggalkan suaranya
melipat dirinya menjadi kenangan
lalu pulang perlahan
kepada sunyi—
tempat segala riuh
menemukan nama terakhirnya
di antara nadi dan kenangan yang belum selesai
Marihat Bandar,14 September 2026