Tawamu Bukan Tawaku
Karya: Dea Permata SundariKepala-kepala merapat di sudut kelas,
bisik-bisik jatuh nyaris tanpa suara.
Seseorang lewat, satu tatap terlepas,
tawa pun pecah menggelora.
Entah siapa kena giliran,
jadi bahan tawa di antara mereka.
Sekarang nama lain jadi sasaran,
esok mungkin giliranku tiba.
Ponsel tergeletak di atas meja,
layarnya menyala, jadi pusat cerita.
Tawa kian meninggi tanpa jeda,
seakan kelas ini milik mereka.
Aku ikut tersenyum, pura-pura biasa,
menunduk pada buku, seolah membaca.
Asal namaku tak masuk daftar cela,
kubiarkan tawa berlalu begitu saja.
Bel pulang berbunyi, aku beranjak segera,
tawa mereka masih riuh tak reda.
Aku terus berjalan menyusuri lorong sekolah,
tanpa menoleh ke arah tawa mereka.
Di depan gerbang, angin membelai wajahku,
napas tertahan kini perlahan berlalu.
Aku tertawa pelan, bukan karena lucu,
entah lega, entah sedih, aku tak tahu.
Tanah Laut, 12 September 2026