Serpihan Tawa di Antara Hari.
Karya: Clarisa dwi juliantiDi antara riuh waktu yang tak pernah menunggu,
Kita pernah menjadi dua suara paling sederhana—
Menertawakan perkara-perkara kecil
Yang bahkan tak layak di sebut bahagia.
Hujan turun tanpa aba-aba,
Sementara sore perlahan menjadi kelabu.
Kita tetap tinggal dalam serpihan tawa,
Seolah waktu belum ingin berlalu.
Mungkin tawa memang tak butuh alasan,
Ia tumbuh dari percakapan kecil,
Dari kebersamaan yang tak direncanakan
Dan dari bahagia yang datang diam-diam.
Barangkali bahagia memang tak selalu berupa
peristiwa besar yang layak dikenang.
Kadang, ia hanya sekejap tawa
yang tumbuh dari percakapan tanpa tujuan.
Kini hari-hari kembali menelan jaraknya,
membawa kita pada kesibukan masing-masing.
Namun di antara riuh dan sunyi yang silih berganti,
serpihan tawa itu masih berpendar di dalam ingatan.
Tangerang, 12 Seperti 2026