Air Mata Saksi Nyata
Karya: Aurelia Fika RamadaniMalam kembali memeluk sunyi
di bawah telapak langit yang kelam,
sementara rembulan tak mau menapakkan wajahnya
di balik tirai sang Mega.
Kala itu,
di sudut kamar remang,
sepasang netra menjadi telaga
nan tak sanggup menahan hujan
Tangis jatuh perlahan,
mengetuk lantai dengan suara lirih,
membawa serpihan luka
yang lama terkubur di dada.
Ada kata yang mati dalam lathi,
ada asa yang jatuh sebelum tumbuh,
ada rindu yang memilih menjadi awang-awang.
Barangkali air mata bukan tanda kalah,
tapi bahasa hati paling jujur.
Menjadi bukti kala diri ini tak mampu bersuara,
karena luka nan tak mampu dicerna.
Dan biarlah malam menjadi saksi,
bahwa ada hati yang ingin dimengerti,
meski itu hanya dalam mimpi.
Kulon Progo, 15 September 2026