Ainun Jariyah - Yang Tumbuh Dari Air Mata (OSN 3.8)

📅 11 September

 Yang Tumbuh Dari Air Mata

Karya: Ainun Jariyah


YANG TUMBUH DARI AIR MATA

Ia tumbuh dari banyak hal yang tak sempat diberi nama.
Dari pintu rumah yang perlahan belajar menjadi jarak,dari pelukan yang selalu ingin diperpanjang, dari suara-suara yang pernah membuatnya bertanya mengapa sebuah rumah
tak selalu berarti tempat paling tenang.
Sejak kecil ia diberi tahu, air mata bukan milik mereka yang ingin disebut kuat.

Maka ia belajar menjadi pandai. Pandai tersenyum ketika dadanya penuh.Pandai berkata tidak apa-apa ketika ada sesuatu di dalam dirinya yang sebenarnya ingin sekali ditanya: "Kamu baik-baik saja?"

Ia menyimpan tangis
di tempat-tempat yang tak diketahui siapa pun
di balik bantal,di sela malam yang panjang,
di perjalanan pulang, bahkan di antara tawa
yang ia buat terlalu keras agar kesedihannya tidak terdengar.

Barangkali begitulah seseorang perlahan menjadi dewasa:
bukan karena ia telah memahami hidup,
melainkan karena ia mulai terbiasa membawa sesuatu yang tidak mampu ia pahami.

Ada hari-hari ketika masa depan terasa seperti lorong
tanpa lampu. Ia berjalan, meski tak tahu apa yang menunggu di ujungnya.
Di sakunya ada beberapa mimpi
yang mulai kusut. Di kepalanya ada banyak pertanyaan
yang tak pernah menemukan pintu keluar.

Dan di dadanya ada rindu.
Rindu yang tak selalu tahu
kepada siapa ia harus pulang.
Ia merindukan rumah.
Merindukan masa ketika kehilangan
belum menjadi kata yang menakutkan.

Merindukan orang-orang
yang ingin ia pertahankan selamanya,
meski ia tahu tidak semua yang dicintai
ditakdirkan untuk tinggal.
Ia juga menangisi dirinya sendiri
bukan karena ia lemah,
melainkan karena ia tahu
betapa sering dirinya sendiri
ia tinggalkan demi terlihat baik-baik saja.
Malam kemudian turun.
Pelan.

Seperti seseorang
yang tahu ada luka
yang terlalu lama disembunyikan.
Untuk pertama kalinya,
ia tidak memerintahkan matanya
untuk berhenti.
Satu tetes jatuh.
Lalu satu lagi.

Dan ia sadar
ternyata selama ini
yang ingin ia tahan bukanlah air mata,
melainkan seluruh dunia
yang terlalu penuh
untuk ditampung oleh satu dada.
Ia menangis untuk hal-hal
yang pernah hilang.
Untuk hal-hal yang belum sempat dimiliki. Untuk seseorang yang masih ia sayangi.
Untuk rumah yang semakin jauh.
Untuk mimpi-mimpi yang belum menemukan waktunya. Dan untuk dirinya sendiri
yang terlalu lama berdiri
sambil berpura-pura
tidak membutuhkan siapa-siapa.

Tangis itu akhirnya habis.
Bukan karena semua masalah telah selesai.
Bukan pula karena hidup tiba-tiba menjadi ramah.
Hanya saja, setelah malam sepanjang itu,
ia menemukan sesuatu
yang selama ini luput ia pahami: air mata tidak selalu datang untuk menenggelamkan seseorang.

Kadang ia datang
untuk membersihkan pandangan
agar seseorang mampu melihat jalan yang masih tersisa.
Maka ketika pagi mengetuk jendela,
ia bangun dengan mata yang sembap.
Tidak lebih kuat dari kemarin. Tidak lebih tahu tentang hari esok.

Namun ia tetap membuka pintu.
Tetap melangkah.
Sebab mungkin,
menjadi dewasa bukan tentang berhenti menangis.
Mungkin menjadi dewasa adalah
mengetahui bahwa setelah menangis,
kita masih punya keberanian
untuk menghapus wajah sendiri,
menarik napas,
lalu melanjutkan perjalanan.

Dan jika suatu hari
ada yang bertanya
dari mana ia belajar bertahan,
ia mungkin tidak akan menjawab
tentang keberanian.
Ia hanya akan menunjuk
bekas air mata di pipinya
sebab di sanalah
ia pernah kehilangan banyak hal,
dan dari sanalah
ia belajar menemukan dirinya kembali.


Dolok Masihul, 11September 2026