Dalam Doa dan Air Mata
Karya: Adrian Raditya PutraDalam Doa dan Air Mata
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
meski malam ini yang tersisa hanyalah kata-kata,dan rintik gerimis yang jatuh di sepasang mataku, menjadi tangis yang tak sempat diucapkan bibirku.
Air mata ini meluncur pelan di atas pipi, seperti sepotong masa lalu yang mengetuk sepi.
Ia tak meminta telinga untuk mendengarkan, ia hanya ingin menghapus jejak yang kautinggalkan.
Barangkali tangis adalah cara terbaik bagi rindu, untuk menyampaikan salam yang tak sampai kepadamu.
Menyusup di antara sela angin dan dingin udara, menjelma menjadi doa-doa yang rahasia.
Aku menangis bukan karena duka yang membakar dada, melainkan karena cinta ini terlalu penuh dan berharga.
Ia tumpah runcing dari pelupuk yang mulai lelah, namun tak pernah sedetik pun berniat untuk menyerah.
Biar saja air mata ini mengalir sampai ke muara, menghanyutkan namamu yang masih saja berkuasa.
Sebab sesudah rintik ini benar-benar tiada, cinta kita tetap abadi dalam sepi yang fana.
Batujajar, 14 September 2026