Seranaku Tak Serupa Duka
Karya: Adhila Akhbar ArohminKetika dunia serupa nyala,
menjejak di atas retakan luka;
mata demi mata berputar,
saling tunjuk tanpa nalar.
Sedang di sini ia bersimpuh,
dengan jaket lusuh, tubuh yang rapuh;
menatap riuh yang menjelma drama,
tak pernah dianggap dalam alurnya.
Ia terus berseru tanpa henti,
hingga suaranya tak lagi berarti;
meski air tak luruh dari pelupuknya,
namun murka berdenyut di jantungnya.
Jerit-jerit pilu,
dan tangis yang dipertontonkan semu;
menuding Serana dalam canda,
tak membaca diam yang memendam lara.
Antara derai air mata
dan jantung yang berpacu murka,
mana yang benar-benar menangis?
Apakah tangis harus terlihat agar kau peduli?
Sedang waktu enggan menunggu,
tak sudi mengetuk pintu pilu
yang kaugaungkan mendayu-dayu;
sementara alur terus berjalan tanpa restu.
Trenggalek, 15 September 2026