Karya: Putri Aisyah
Tangis tak selalu jatuh dari mata,
kadang ia mengendap di dada,
menjadi sesak yang tak bernama,
menjadi sunyi yang tak siapa-siapa tahu.
Ada air mata yang sengaja disembunyikan,
di balik senyum yang tampak baik-baik saja.
Bukan karena tak ingin bercerita,
hanya saja tak semua luka
mampu diterjemahkan oleh kata.
Malam menjadi saksi
ketika hati akhirnya menyerah pada sunyi.
Air mata jatuh perlahan,
membawa segala lelah
yang sepanjang hari dipaksa untuk diam.
Namun tangis bukan tanda bahwa aku lemah.
Ia hanya cara hati berkata,
“Aku juga ingin didengarkan,
aku juga ingin dipeluk oleh ketenangan.”
Maka biarlah malam ini aku menangis,
sebab setelah air mata reda,
semoga ada ruang untuk kembali percaya—
bahwa setiap luka punya waktunya untuk sembuh,
dan setiap tangis akan menemukan
jalan pulangnya menuju tenang.
Balikpapan, 23 Agustus 2026