Karya: MANSYURA
Tangis bukan tanda jiwa yang pasrah,
bukan pula simfoni bagi hati yang patah.
Ia hujan yang turun di balik dada,
membilas debu rasa yang lama tertata.
Saat lidah kehilangan kata,
setetes bening menjadi bahasa paling nyata.
Ia membasahi hati yang lama gersang,
melunakkan amarah yang sempat garang.
Ada tangis yang reda dalam sunyi,
ada pula yang pecah karena bahagia.
Sebab mengalirkan duka bukan kekalahan,
melainkan cara jiwa menemukan ketenangan.
Seperti langit yang menumpahkan hujan,
setelahnya udara terasa lebih lapang.
Awan kelabu tak selamanya menetap,
ia luruh memberi jalan bagi cahaya.
Maka biarkan sungai kecil itu mengalir,
membersihkan jalan menuju harapan.
Sebab di balik air mata yang jatuh,
selalu ada tawa yang menunggu untuk tumbuh.
Aceh, 26 Agustus 2026