Karya: Maghfira Cahya Maulani
Aku menitip nektar-nektar tawa pada gadis itu
Tatkala berkata "Wahai Manusia" bercengkramalah denganku
Tawa mu berselimut canda yang elok dibawa
Aku masih ingin berpayung canda tawa itu ucapnya
Rakyat jelata yang berubah menjadi PERS!
Dengan gagah dan wibawanya berkata "Alhamdulillah"
Gemuruh petir disertai riuhnya ombak pun
Disinyalir memiliki sebuah kekuatan
Aku menginginkan sebuah album yang berisikan sebuah momentomori KITA
Yang terkenal dan terkenang di kala itu
Sungguh menyenangkan dirimu Wahai Nona!
Aku ingin lebih jauh bersahabat denganmu
Lucunya lagi kau enyah dan enggan kepadaku
Dengan secangkir kopi lihai menjelma dibuatnya
Aku sungguh rindu
Kita yang dahulu
Semoga segera bertemu dan bertamu
Serta kembali kepadaku
Nona dengan lipstik merahnya
Membuat para pria bertatap
Akankah dia menjadi milikku?
Atau malah sebaliknya
Katakan "SETUJU" saja nona
Pasti kau takkan berpaling
Dari pangkuan sang pria
Yang terkenal menerjang badainya
Hai, Nona perkenalkanlah gadis itu kepadaku!
Sungguh dialah yang menyenangkan
Diantara muda-mudi itu
Lantaran sejuta memandangnya
Bak intan permata
Dirgahayu Negeriku!
Merdeka!
Seruan dari kemerdekaan pun turut hadir
Bersemayam serta bersembunyi dibalik batu pun ketahuan
BUM! BUM! BUM!
Nona itu adalah "gadis yang menyenangkan"
Situbondo, 22 Agustus 2026