Karya: Keysya racelia putri
Malam menyimpan kelam yang sunyi, sementara aku menyimpan hujan di balik mata yang enggan terpejam.
Ada nama yang masih kusebut dalam diam,
meski raga pemiliknya telah lebur dipeluk bumi.
Dahulu, tangis adalah bahasa yang mampu menerjemahkan luka.
Kini, bahkan air mata pun seolah kehilangan jalan pulangnya.
Aku tidak lagi menangis dengan suara,
sebab terlalu banyak isak tangis yang menjadi sunyi.
Ia bersembunyi di balik senyum yang menutupi jerit luka,
Lalu berdenyut setiap kali kenangan lama singgah di ambang jiwa.
Begitulah kehilangan,
Tidak selalu merayakan duka dalam bening air mata.
Ia hanya menyisakan ruang kosong,
yang tak seorang pun tahu bagaimana cara mengisinya kembali.
Ujungbatu, 23 Agustus 2026