Karya: Hanifah alhamnah
Untuk Sesuatu yang Tertinggal
Aku berdiri di sana,
menatap kaki-kaki
yang perlahan menjauh.
Satu demi satu,
mereka melangkah menuju sesuatu
yang entah kapan akan ku capai.
Aku hanya diam,
dengan satu pertanyaan
yang terus berputar di kepala—
“Kapan giliran aku?”
Di situlah aku mulai mengerti.
Wahai diri,
tidak salah jika sesekali
kau merasa menjadi insan
yang hanya mampu menatap bisu
orang-orang yang berjalan maju.
Tidak salah jika hatimu bertanya,
mengapa langkah mereka
terlihat begitu mudah,
sementara kakimu
masih tertahan di tempat yang sama.
Namun, renungkan lah—
Jika kau terus berdiri di sana,
menghitung langkah orang lain
dan menunggu giliranmu tiba,
apakah kau akan pernah maju?
Maka aku mulai merenung.
Di bawah rembulan,
di antara bintang-bintang
yang menggantung dalam sunyi,
aku berbicara kepada diriku sendiri.
Mungkin hatiku
masih sedikit bandel.
Masih ingin berlari
mengejar langkah mereka.
Masih ingin segera sampai
pada tempat yang ku impikan.
Namun perlahan,
aku mulai belajar.
Aku mulai memahami
bahwa hidup bukan tentang
siapa yang lebih dahulu
duduk di bangku kuliah,
bukan pula tentang
siapa yang lebih cepat
menggapai cita-cita.
Aku tidak sedang mengubur cita-citaku.
Aku hanya sedang belajar
menerima sesuatu
yang bernama proses.
Sebab mungkin,
jalan yang lambat
bukanlah jalan yang salah.
Dalam sunyi,
mataku mulai terbuka.
Dunia yang dahulu kulihat
dengan rasa tertinggal,
kini mulai kulihat
dengan cara yang berbeda.
Ternyata,
setiap orang memiliki langitnya sendiri,
memiliki waktunya sendiri untuk terbit,
dan memiliki jalan
yang tak harus serupa.
Mungkin aku memang tertinggal.
Namun,
aku tidak kalah.
Sebab selama kakiku
masih bersedia melangkah,
selama hatiku
masih menyimpan cita-cita,
perjalananku belum selesai.
Aku akan tetap berjalan—
meski perlahan,
meski jalanku sunyi,
meski belum ada
yang bertepuk tangan.
Karena kini aku tahu,
aku tidak terlambat.
Aku hanya sedang berjalan
menuju waktuku sendiri.
Dan ketika waktuku tiba nanti,
aku ingin menoleh ke belakang
dan berkata kepada diriku—
“Ternyata,
yang selama ini kuanggap tertinggal
bukanlah hidupku.
Ia hanya bagian dari perjalanan
yang membawaku
sampai ke sini.”
Bogor 23 Agustus 26