Karya: Gracelia Wijaya Halawa
Senja mengira tawanya adalah bahagia,
hingga malam membisikkan tentang nestapa
yang diam-diam bersemayam di relung jiwa.
Pernah ia menjadi rumah
bagi cinta yang gemar menyalakan prahara,
menukar setia dengan sunyi,
meninggalkan bayang luka pada musim yang panjang.
Lalu ia memilih menjadi sepi,
mengubur percaya di antara puing masa silam.
Hingga seseorang datang membawa teduh,
mengetuk tanpa merobohkan pintu.
Ia menetap, tanpa pernah menjadikan luka sebagai alasan untuk pergi.
Namun di balik tawanya yang kembali bersemi,
terselip renjana yang tak terucap:
merunduk di hadapan jejak yang lampau,
takut bahwa dirinya terlalu nestapa
untuk seseorang seteduh itu.
Padahal ia tak pernah meminta pergi—
Hanya sukma yang masih gamang, mengira dirinya terlalu kelam untuk menjadi tempat berlabuhnya kasih.
Semarang, 23 Agustus 2025