Karya: Firdawati
Fajar menyapa dengan cahaya yang megah,
Namun di dalam rumah, suasananya pecah.
Bukan kicau burung yang bangunkan tidurku
Tapi jeritan parau tentang dompet yang membeku.
Kata demi kata menghantam telinga,
Ekonomi yang runtuh merenggut bahagia.
Hatiku hancur bak kaca yang terhempas,
Membuat napas dada ini terasa sesak dan lepas.
Ke mana lagi aku harus melangkah pergi?
Jika rumah tak lagi jadi tempat berteduh diri.
Setiap pagi berganti menjadi hantu yang ngeri, Meninggalkan luka mendalam di sudut sanubari.
Di sekolah, bayang-bayang itu terus mengejar,
Tagihan SPP membuat dinding nyaliku runtuh dan pudar.
Lirikan mata teman menjadi pisau yang tajam, Mengejek kemiskinan yang membuat duniaku kelam.
Rasa malu ini mengikat kuat di leherku,
Saat namaku dipanggil karena tunggakan itu.
Hancur, hatiku hancur sehancur-hancurnya, Menanggung beban yang bukan seharusnya.
Aku berdiri di tengah badai tanpa daya,
Ingin membantu, tapi tangan kecilku tak punya apa-apa.
Tuhan, sudahi riuh yang menyiksa batin ini,
Aku hanya rindu kedamaian di pagi hari.
Palembang, 23 Agustus 2026