Karya: Cakra Adi Kusuma
Aku duduk dalam kesunyian,
Mendengar angin menyentuh jendela.
Kenangan datang tanpa diundang,
Membuat air mata jatuh perlahan.
Dahulu kita berjalan bersama,
Menertawakan hari tanpa rasa takut.
Kini hanya bayangmu yang tersisa,
Menemani malam yang semakin larut.
Aku mencoba melupakan semua,
Namun kenangan selalu kembali.
Setiap langkah terasa hampa,
Seolah hidup kehilangan arti.
Air mata menjadi saksi,
Atas hati yang pernah berharap.
Kucoba tegar setiap hari,
Realita tak selalu terucap.
Mata tak tahan lagi,
Akan tangis menanti.
Coba ku tahan sekuat tenaga,
Namun apalah daya manusia.
Mengapa perpisahan begitu menyakitkan?
Mengapa rindu begitu sulit diredakan?
Pertanyaan terus memenuhi pikiran,
Sementara jawaban tak pernah datang.
Malam semakin gelap dan sunyi,
Bintang pun seakan enggan bersinar.
Aku hanya mampu memeluk diri,
Saat kesedihan datang menyebar.
Jika waktu dapat ku putar kembali,
Akan ku jaga setiap detik bersamamu.
Namun semua hanyalah mimpi,
Yang tak mungkin menjadi nyata lagi.
Kini ku ikhlaskan kepergianmu,
Meski hati masih ingin bertahan.
Biarlah air mata menjadi penutup,
Untuk kisah yang berakhir dalam diam.
Esok mungkin mentari kembali terbit,
Membawa harapan yang baru.
Meski luka belum sepenuhnya sembuh,
Aku akan belajar tersenyum tanpamu.
Surabaya, 22 Agustus 2026