Dibaca: Memuat...
Di Ambang Esok
Karya: Resi WahyuniSetiap pagi, aku membangun diriku
dari puing-puing malam
yang belum sempat tersapu.
Kupungut satu per satu harapan
agar tetap menyerupai seseorang
yang masih sanggup berdiri tegap.
Namun, menjelang senja,
langit dalam dadaku kembali runtuh.
Yang tertinggal hanyalah lelah
yang tak pernah benar-benar usai.
Sementara usia diam-diam memudar.
Kehidupan lain datang meminta waktuku.
Namun, tak seorang pun bertanya
berapa banyak yang telah hilang
dari diriku sendiri.
Aku ingin marah.
Ingin berteriak
hingga seluruh sesak yang kupendam
luruh bersama gema.
Namun, dinding-dinding rumah ini mengajariku diam,
dan air mata menjadi satu-satunya bahasa
yang berani lahir tanpa suara.
Aneh rasanya,
aku masih mencintai kehidupan ini,
meski hampir setiap hari
ia membisikkan betapa mudahnya
merobek aliran sunyi di bawah kulit.
Lubuk Basung, 16 Juli 2026