Sebilah Pisau Yang Berbunga
Karya: NADYA PUTRI PRIMA SASTRA NEGARADulu, mata ini adalah sasaran panah-panah kata,
ditebarkan dari bibir yang tak paham cara merawat rasa.
Setiap ejaan cela menembus ruang dada,
meninggalkan sayatan, mengendapkan duka.
Mereka mengira aku akan runtuh di antara derita.
Namun, pantang kujadikan rerintihan sebagai muara.
Ejaan tajam yang merajam rusukku
kurawat menjadi bilah penegak kalbu.
Tak ada dendam yang ingin kubalas,
hanya benang-benang ragu yang kini kupangkas.
Biarlah prasangka membingkaiku sebagai kelam yang rebah,
saat dalam sunyi, jemariku teguh menenun arah.
Duka itu menempa netraku membaca terang—
bahwa martabat tak dilukis oleh prasangka yang garang,
melainkan diukir dari riak ketabahan yang terus menerjang.
Kini, di puncak tinggi yang dulu dianggap sekadar mimpi,
bekas sayatan itu tak lagi berdarah.
Sebab dari bilah terdingin yang pernah mengiris dada,
jika dipeluk ketabahan yang saksama,
ia 'kan mekar menjadi hangatnya tangkai bunga.
Sidoarjo, 29 Juli 2026