Muqit khoiri - Hitam Abu, Warna Hidupku Menjadi Kuat adalah Topengku (OSN 3.3)
👁️ dibaca

Table of Contents
Muqit khoiri Hitam Abu, Warna Hidupku Menjadi Kuat adalah Topengku Setiap manusia lahir seperti kanvas yang belum mengenal luka. Lalu waktu datang, membawa langkah, tangga, dan jatuh, memberi warna satu per satu. Namun entah mengapa, hidupku belajar lebih dulu tentang hitam dan abu-abu. Aku mencari warna lain, bukan untuk bahagia sepenuhnya, hanya agar hidupku tidak selalu redup. Aku menunggu seniman, entah siapa, entah kapan, atau mungkin akulah yang seharusnya belajar memegang kuas itu sendiri. Aku berusaha menjadi yang terbaik untuk hari ini, meski kadang aku lupa apakah aku benar-benar kuat atau hanya pandai terlihat kuat. Aku tak ingat kapan terakhir air mata jatuh tanpa rasa bersalah. Ada perasaan yang ingin kuperlihatkan, namun dunia jarang berhenti untuk melihat orang seperti aku. Menangis tak selalu membuat dimengerti, sering kali hanya membuat orang berpura-pura peduli. Dari sanalah aku belajar bahwa ketulusan adalah hal langka, dan manusia kerap mencintai versi terbaik dari dirinya sendiri. Meski begitu, aku percaya suatu hari akan ada yang melihatku bukan karena peranku, bukan karena topengku, melainkan karena aku adalah aku. Hingga hari ini, senang dan sedih terdengar asing di lidahku. Yang tersisa hanya hampa dan lelah yang tenang. Aku percaya monster itu nyata. Ia datang di malam-malam sunyi, membisikkan hal-hal yang tak berani kuucapkan di siang hari. Aku tidak menahannya, aku hanya terbiasa berdiri. Aku berbeda, bukan karena ingin terlihat tinggi, melainkan karena aku memilih tidak menyamar. Monster itu tidak akan selamanya berkuasa. Suatu hari, aku akan menghadapinya tanpa marah, tanpa takut. Kepada semua yang pernah singgah, terima kasih. Bahkan pada kebohongan kecil yang sempat menghangatkan, aku mengerti— manusia memang sering membutuhkan ilusi untuk bertahan. Dari situlah aku paham bahwa kenyataan tidak selalu ramah, namun kejujuran adalah satu-satunya jalan pulang. Rapuh, aku peluk. Lemah, aku terima. Menangis, aku izinkan. Dan kuat tidak lagi kuusahakan. Ia tumbuh dengan sendirinya. Purwokerto, 30 Januari 2026

Posting Komentar