Muhammad Ichsan Bahrul Wakhid - PERJAMUAN PULANG YANG TAK BERTUAN (OSN 3.3)
👁️ dibaca

Table of Contents
Muhammad Ichsan Bahrul Wakhid PERJAMUAN PULANG YANG TAK BERTUAN Di ruang tamu, aroma kemenyan berkelindan dengan anyir kenangan. Ayah telah menjadi cakrawala yang melipat diri, meninggalkan rumah yang kini serupa pustaka tua dengan halaman-halaman yang meranggas. Dahulu, tangannya adalah sauh yang menahan amuk badai di dada kami. Kini, raga itu adalah perca waktu yang diletakkan di atas dipan jati. Aku melihat atman terbang melepaskan sangkar tulang, menuju muara di mana siang dan malam tak lagi berebut takhta. Sajadah yang lusuh kini kehilangan kiblat fisiknya, namun doa-doa yang dipanjatnya dulu telah menjelma suluh di lorong-lorong gelap syarafku. Kita semua adalah penyair yang dipaksa menulis bait terakhir tanpa titik, sebab dalam setiap kehilangan, selalu ada arkaisme rindu yang gagal kita modernkan. Ayah, engkau adalah titah yang kini senyap, mengajari kami bahwa hidup hanyalah cara singkat untuk belajar bagaimana cara berpulang dengan khidmat. Trenggalek, 31 Januari 2026

Posting Komentar