Muhammad Aulia Rahman - Menilik serpihan diri (OSN 3.3)
👁️ dibaca
Table of Contents
Menilik serpihan diri
Sepatu ini sudah lupa warna aslinya, tertimbun sisa perjalanan yang enggan pergi. Di ranselku, ada peta yang garisnya sudah mulai memudar, hasil lipatan ragu dan ambisi yang terlalu besar. Aku pernah berhenti di persimpangan pukul dua belas malam, saat lampu kota hanya berkedip malas, bertanya pada bayangan sendiri: "Kita ini sedang pulang, atau sekadar menjauh?" Ternyata hidup bukan soal garis finis yang pita merahnya siap dipotong. Ia adalah deretan warung kopi di pinggir jalan, percakapan singkat dengan orang asing yang searah, dan luka-luka kecil di telapak kaki yang berubah jadi kapalan— tanda bahwa aku pernah berjalan, bukan hanya mengambang. Kini, aku tak lagi mengejar ujung cakrawala. Sebab aku tahu, sejauh apa pun langkah dipaksa, perjalanan paling jauh tetaplah menuju ke dalam diri sendiri.
Bogor, 30 Januari 2026
2 komentar