JURIAH RISTIANI SAPITRI - Doa Ibu, Puisi Ayah, dan Hari Penuh Peluh (OSN 3.3)
👁️ dibaca
JURIAH RISTIANI SAPITRI
Doa Ibu, Puisi Ayah, dan Hari Penuh Peluh
Sang Ayah enggan melepas “puisi”-nya.
Baginya, dunia terlalu luas untuk bait yang ia dekap di dada.
Ibu pun enggan berhenti melangitkan doa di sepertiga malam itu. Ia menantang langit; tak ada yang mustahil selama namaku disebut dalam sujud yang pilu.
Lalu waktu tumbuh.
“Puisi” itu belajar mengeja mimpi.
Kemarin ia pamit pergi, menuliskan takdirnya sendiri.
Namun Ayah tak membiarkan sendiri.
“Hati-hati,” ucapnya sembari melangkah pelan, mengikuti dari belakang.
Padahal ia tahu “puisi”-nya sudah pandai berdiri tanpa penyangga diri.
Ia cemas aksaranya jatuh di halaman yang salah.
Malam itu, di bawah langit yang sama, Ibu menengadahkan doa untuk “puisi”-nya yang sedang mengukir kisah.
Jika kelak aku sampai pada halaman terbaik mimpiku,
itu bukan karena kakiku hebat berjalan, melainkan karena doa Ibu menantang langit kelabu,
serta aksara Ayah menjagaku dari runtuh.
Tangerang, 30 Januari 2026p
Posting Komentar