Ilham Eldiansyah - Menenun Amin di Punggung Samudera (OSN 3.3)
👁️ dibaca

Table of Contents
Ilham Eldiansyah Menenun Amin di Punggung Samudera Di hadapan samudera yang menyimpan rahasia palung, aku adalah camar yang menolak luruh oleh kepungan mendung. Kugantungkan sepasang sayap pada pasang-surut nasib, di mana doa bukan lagi sekadar rima yang tertib, melainkan pekik yang membelah sunyi di antara buih dan ombak yang karib. Tuhan, impianku adalah garis pantai yang samar, yang seringkali hilang tertutup kabut yang nanar. Maka biarlah samudera ini menjadi naskah bagi sujudku, tempat tinta asin menuliskan lelah di sela kepak bahuku, mengadu pada arus bahwa aku masih tegak mencari rida-Mu. Aku tidak meminta gelombang berhenti menderu, karena aku tahu, ketabahan hanya lahir dari ujian yang biru. Namun pintaku; biarlah angin menjadi sayap bagi amin yang kupanjatkan, agar sebelum tubuh ini lelap ditelan keheningan, aku telah sampai di daratan yang Engkau janjikan. Sebab di atas punggung air yang agung ini, setiap kepak adalah zikir, dan setiap impian adalah muara yang takkan berakhir. Payakumbuh, 31 Januari 2026

Posting Komentar