Hafidz Favian Rizal Doa yang Menyala di Langit Dada Di langit dada, kutanam doa, benih sunyi yang tumbuh jadi cahaya. Impian kupeluk seperti fajar, pelan namun pasti mengusir gelap yang liar. Tuhan, jadikan langkahku angin lembut, yang tak terlihat, tapi mampu menggerakkan laut Jika jatuhku adalah hujan, maka bangkitku adalah pelangi: harapan. Kupahat nama-Mu pada tiap napas malam, agar resah tak sempat jadi kelam. Sebab mimpiku bukan sekadar ingin sampai; tapi menjadi baik, sebelum benar-benar tiba. Kadang aku lelah, Tuhan; jujur saja, di antara "harus kuat" dan air mata yang kutahan. Tapi tiap kali kusebut nama-Mu pelan-pelan, dadaku terasa lapang ... seolah Kau bilang: pelan, kamu tidak sendirian. Bekasi, 28 Januari 2026
Posting Komentar