Farlhah Fahira Sakinah Dipaksa Jadi Aku. Aku, dipaksa menjadi aku. Saat diri masih suci, terlalu naif untuk mengerti. Sudahkah aku dewasa? Entah dari umur atau perilaku. Mudah menyimpulkan tergesa, tanpa menyelami ke dalamnya karena sungai tenang tak selalu damai di dasarnya. Beribu waktu terlewati, beribu detik bergema. Ragaku terjebak wadah penuh penyesalan membusuk. Seakan sosokku selalu salah. Lara menyergap laju, menyayat hati terdalam, memberontak saat diobati. Tangis tumpah, bergetar hebat, saat malam sunyi disaksikan lampu redup rumah. Raga terlalu rapuh untuk dipaksa keras sejak dini. Bukan fisik, tapi mental. Luka lama menganga lebar, di hati yang tulus. Kata damai sulit diraih, karena penoreh luka terlanjur gila otoritas. Menganggap diri selalu benar, di atas segala nasihat. Padahal, ia bentuk cinta untuk sosok aku ini. Suara tangisku dulu, kini bisu. tertinggal di langit-langit rumah, berharap waktu menyembuhkan. Malang, 30 Januari 2026
Posting Komentar