Faiz Ash Shidqi Kebutuhan Seorang Hamba vs Keinginan Takdir Tuhan Di suatu tempat dan menjelang pagi, matahari bersiap diri naik ke atmosfer, semburat jingga terlukis lurus di cakrawala. Kugenggam gagang pintu, yang dibaliknya bersemayam takdir, rizki, jodoh, nasib menunggu untuk dijemput, bahkan, kematian pun turut menunggu. "Bismillah...", gumamku pelan, bak rapalan seorang peramal, berharap hal-hal baik menghampiri, berharap hal-hal nahas menjauh. Pintu terbuka. Udara menyapa, berebut masuk ke dalam saluran pernapasanku, menyerobot paru-paru yang lelah bekerja, menyegarkan otak yang sarat momen-momen hidup. "Selamat pagi, dunia...", ada hembusan nafas di akhir ucapanku, nafas yang tertinggal kemarin, menyatu dengan tanah. Matahari menyapa dengan sinar hangatnya. "Hai, Manusia...", begitu kira-kira sapaannya. Mulai. Deru mesin sepeda motor membelah udara sejuk, melaju pelan didorong harapan, melaju pelan ditarik impian, penjemputan rizki dimulai. Oh, Tuhan. Kumohon, yang kemarin biarlah kemarin, nasib sial, nahas, payah, dan gagal pergi jauh sudah. Dan yang sekarang adalah sekarang, rizki, kebahagiaan, keberuntungan, datang sebentar lagi. Karena Tuhan, aku tak lebih tak kurang hanya Hamba-Mu. Hamba yang butuh rizki. Hamba yang menolak bala. Bekasi, 30 Januari 2026
Posting Komentar