Dea Friskana Dara - Palung Waktu, Aku Belajar Menjadi (OSN 3.3)
👁️ dibaca

Table of Contents
Dea Friskana Dara Palung Waktu, Aku Belajar Menjadi Aku menyusuri hidup Seperti membaca naskah tua Yang sebagian hurufnya luntur Sebagian lain berdarah Di sela-sela halaman. Tak ada penjelasan, Hanya isyarat-isyarat samar Yang harus kuterjemahkan Dengan tubuh dan kehilangan. Aku dibesarkan oleh jarak, Oleh rindu yang tak menemukan alamat, Oleh sunyi yang menjelma bahasa. Langit kerap menutup matanya, Membiarkan doaku jatuh Sebagai gema Di rongga takdir yang dingin. Namun aku tetap menengadah Sebab runtuh pun Adalah cara berdiri yang lain. Perjalanan ini tak mengenal belas kasihan. Ia merampas dengan tangan waktu, Lalu mengajariku ikhlas Tanpa pernah memberi definisi. Luka menjadi arsip, Air mata menjadi catatan kaki, Dan hatiku belajar membaca makna Dari hal-hal yang tak kembali. Aku pernah menjadi serpih, Pecahan yang kehilangan bingkai. Terlunta di antara hari-hari Yang terasa seperti pengasingan. Namun justru di retakan itulah Cahaya menemukan celahnya Sebab utuh tak selalu jujur, Dan patah sering kali lebih manusiawi. Kini aku berjalan lebih pelan, Menyapa waktu dengan kepala tunduk. Aku tak lagi meminta hidup Untuk menjadi ramah, Cukup ia jujur Dalam menyakitiku. Sebab dari sakit Aku belajar bernapas, Dari kehilangan Aku belajar tinggal. Dan jika suatu hari namaku Hanya sisa gema Di lorong ingatan, Biarlah puisiku bersaksi: Aku pernah runtuh, Namun tidak hilang. Aku pernah lelah, Namun memilih bertahan. Di palung waktu yang sunyi ini, Aku tidak sedang mencari akhir Aku sedang belajar Menjadi . Bener Meriah, 30 Januari 2026

Posting Komentar