AMANDA PUTRI PRATIWI Di persimpangan Sujud dan Angan Di bawah hamparan rasi bintang yang terhampar, Aku mengeja mimpi pada bentang langit yang luhur. Mimpi adalah arsitektur di atas kening yang terkapar, Tempat harapan dipahat, sebelum raga kembali ke kubur. Langkah ini bukanlah sekadar menempuh jarak yang tak lama, Melainkan upaya menyentuh fajar dengan sukma yang terbina. Sebab apa arti sebuah mimpi jika hanya berhenti di muara kata? Tanpa peluh yang jatuh, membasahi bumi yang dahaga. Aku berselimut doa di tengah bising dunia yang sementara, Mengirim bisik paling lirih kepada Sang Pencipta. sebab aku paham, logika manusia hanyalah sebutir debu, Di hadapan skenario-Nya yang mutlak, tak pernah menjadi kelabu. Ketabahan adalah tinta untuk menulis sejarah yang baru, Meski duri kegagalan kerap menikam seisi kalbu. Namun di setiap kata dalam doa, ada janji yang tetap menderu: Bahwa tiap-tiap jerit payah, akan menemukan dermaga yang tuju. Kini biarlah takdir berbuah atas apa yang telah ku tanam, Antara kerja yang gigih dan hati yang tetap tak boleh lalai. Sebab di persimpangan sujud dan ikhtiar yang tak usai, Puncak impian akan hadir sebagai hadiah yang paling damai. Bandung, 30 Januari 2026
Posting Komentar