Nurul Hasana - DIBAWAH LANGIT YANG MENDENGAR (OSN 3.3)

📅 11 Januari
Dibaca: Memuat...


 

Nurul Hasana

DIBAWAH LANGIT YANG MENDENGAR


Aku mendekati-Mu

dengan hati yang penuh dengan retakan,

membawa harapan yang hampir hancur

dan doa yang merasa lelah berdoa.


Ya Tuhan,

di hadapan orang lain, aku biasa tersenyum,tetapi saat hanya Engkau dan aku,aku merasakan kehampaan sepenuhnya.


Sujudku kini dipenuhi air mata bukan karena wudu, tetapi oleh tangisan yang selalu terlihat.


Imanku seringkali rapuh,

bukan karena hilangnya keyakinan,

melainkan karena waktu yang

terlalu panjang dalam menjawab doa-doaku.


Kusimpan pertanyaan dalam hati:

apakah doa-doaku terlalu kecil bagimu 

atau apakah aku seringkali

menuntut jawaban segera?


Jika Engkau mengulur waktu,

jangan biarkan aku berpikir bahwa aku salah.

Jika Engkau menguji,

tahanlah aku dalam kesabaran ini dan.


Aku tidak mengharapkan hidup tanpa luka,

aku hanya ingin hati yang lembut

agar bisa menerima semua 

luka yang tak bisa aku hindari. 


Karena itu, aku titipkan impianku kepadamu sang Pencipta alam 

bukan agar segera terwujud,

tetapi supaya ia tidak mati

sebelum saatnya tiba.


Dunia ini belum sepenuhnya kutelusuri,

tetapi Engkau sudah mendengarkan doaku,

bahkan sebelum aku selesai mengucapkannya.


Di bawah langit yang kelam dipenuhi bintang, aku bersujud sepenuh jiwa.

Dengan hati yang dipenuhi impian yang hampir hancur dan doa yang lelah berusaha berkata "kuat. "


Ya Tuhan, tolong bantu jernihkan pikiranku dan imanku yang sering terhambat oleh kelelahan ini. 

Jika kata-kata sulit untuk diungkapkan,

aku hanya membisikkan satu permohonan:

jangan biarkan aku tersesat

antara harapan dan keputusasaan.


Aku tidak ingin diujicoba sepanjang hidup ini, namun aku ingin terus percaya bahwa setiap luka tidak pernah sia-sia di hadapan-Mu.


Sekali lagi, aku datang kepada-Mu,

dengan hati yang penuh retakan,

membawa harapan yang hampir patah dan doa yang lelah tetapi tetap setia berharap.


Di bawah Langit yang Mendengar, aku percaya:

tidak ada air mata yang jatuh tanpa artinya.


Medan, 9 Januari 2026