Mohammad Najmuddin Bariq - Jejak Di Batas Negara (OSN 3.3)
👁️ dibaca
Table of Contents
Jejak Di Batas Negara
Ia berdiri di tapal batas, pedang menggenggam sumpah.
Langit kelabu menjahit luka di pundaknya dengan hujan,
tapi matanya tetap menyala,
membaca surat dari rumah yang sudah usang di saku.
Tapak sepatunya mencatat tahun:
satu, dua, tiga musim berganti
tanpa ia mendengar tawa anaknya tumbuh.
Angin yang berhembus dari utara
membawa bisik istri,
"Kapan pulang?"
Ia tak menjawab, hanya menggenggam pedang lebih erat,
seolah itu tangan anaknya yang belum pernah ia genggam lama.
Di depan, asap dan dengung meriam menggerayangi bukit.
Di belakang, ada rumah dengan lampu yang tak pernah padam,
dengan meja makan yang selalu disediakan satu piring tambahan,
dengan doa yang ditanam di bawah bantal setiap malam.
Hidupnya adalah garis antara dua dunia:
satu ia pertahankan dengan darah,
satu ia impikan dalam diam.
Tubuhnya mungkin lelah,
tapi jiwa tak kenal kata henti.
Karena ia tahu,
setiap langkah mundur adalah pengkhianatan
pada nama yang tersimpan di dada:
anak, istri, ibu pertiwi.
Malam turun membawa dingin yang menggerogoti tulang.
Ia duduk di antara akar pohon tua,
mengunyah kenangan seperti bekal terakhir.
Bayang-bayang keluarganya menari di api unggun kecil,
menghangatkan jantung yang hampir beku.
Dan saat fajar menyapa kembali,
ia bangkit dengan pedang yang sama,
dengan tekad yang tak pernah aus.
Ia bukan pahlawan tanpa rasa takut,
hanya seorang bapak yang memilih bertahan,
hanya seorang anak bangsa yang percaya:
perjalanan hidup paling bermakna
adalah ditempuh untuk mereka yang tak bisa melawan.
Jika nanti ia rebah,
jangan sebut ia gugur.
Sebut ia telah sampai diujung perjalanan,
mengantarkan damai untuk tanah yang ia cintai,
dan namanya akan terus hidup
dalam desau angin di perbatasan,
dalam cerita yang diceritakan anaknya nanti:
"Bapakku tanpa tanda jasa,
yang memilih berdiri agar kami bisa bermimpi."
Jombang, 11 Januari 2026
Posting Komentar