MARIA ELISABET JUNJUNG - Hujan Rinti di Ujung Sana (OSN 3.3)
👁️ dibaca
Table of Contents
Hujan Rinti di Ujung Sana
Hujan, kau laksana air mata langit
yang jatuh tanpa isyarat,
datang perlahan membawa dingin
yang tak pernah kuminta.
Rintik suaramu mendekatkan rindu,
aroma tanah basah menjadi penanda
bahwa waktu kembali bergerak.
Gerimis menggantung di udara senyap,
menyentuh sunyi dengan kesabaran.
Butir-butirmu merintih
di atap seng yang renta,
kabut menutup pandang,
angin lirih menyusup,
menusuk kulit hingga ke rasa terdalam.
Dalam kehadiranmu, jenuh berdiam,
sepi terasa semakin panjang.
Aku belajar menunggu reda,
belajar menerima kepergian,
sebab tidak semua yang datang
ditakdirkan menetap.
Di ujung sana, hujan tetap jatuh,
sementara aku melangkah pulang
dengan hati yang lebih lapang,
sebagai saksi perjalanan hidup
yang mengajarkanku arti kehilangan,
keteguhan, dan harapan
tanpa perlu suara,
tanpa janji,
hanya kesadaran
bahwa setiap langkah
menumbuhkan dewasa,
perlahan, jujur,
dan sederhana
dalam menerima diri,
waktu,
serta semesta utuh.
Kenggu, 25 Januari 2026
Posting Komentar