Jhon Ruhulessin - KEMUDI TAKDIR ANAK OMBAK (OSN 3.3)
👁️ dibaca

Table of Contents
Jhon Ruhulessin
KEMUDI TAKDIR ANAK OMBAK

Pada tahun dua ribu delapan, semesta menitipkan sebuah nyawa pada pelukan Teluk Ambon yang biru. Di sana, napas pertamaku menyatu dengan aroma laut dan tanah Manise yang keramat. Kini, setelah delapan belas tahun menempuh badai, aku bukan lagi sekadar bocah yang mengejar buih di tepian. Perjalanan hidup telah mengajariku bahwa mendewasa adalah proses mengasah kemudi di tengah gelombang yang menghantam tanpa permisi. Aku adalah saksi dari setiap luka yang mengeras menjadi otot, dan setiap air mata yang mengkristal menjadi tekad yang lebih tajam dari karang.

​Aku berdiri tegak di haluan waktu, menolak menjadi budak nasib yang karam dalam keraguan. Tanganku kini mencengkeram kedaulatan takdir dengan jemari yang kokoh, menavigasi setiap mimpi menembus kabut masa depan yang rahasia. Hidup ini adalah pelayaran agung, di mana aku memilih untuk tidak sekadar hanyut, melainkan memimpin setiap langkah menuju fajar kemenangan. Di bawah langit Maluku yang sakral, aku adalah nakhoda bagi jiwaku sendiri, berlayar melampaui batas cakrawala yang tak terbatas.

Ambon, 30 Januari 2026

Posting Komentar