JENITA ERLINA - SAJAK DI PUNGGUNG WAKTU (OSN 3.3)
👁️ dibaca

Table of Contents

JENITA ERLINA
SAJAK DI PUNGGUNG WAKTU



​Di terminal pagi yang berkabut tipis,
Kita mengepak koper dengan jemari yang masih puitis.
Isinya bukan baju, bukan pula bekal roti,
Melainkan segenggam mimpi dan ribuan tanya yang tak mati-mati.
​Langkah pertama adalah sebuah pengkhianatan,
Kepada rasa nyaman dan dinding rumah yang penuh pelukan.
Kita berjalan di atas seutas benang takdir yang fana,
Di antara jurang penyesalan dan puncak-puncak rencana.
​Ada kalanya jalanan berubah menjadi cermin,
Menampilkan wajah kita yang kusam ditiup angin.
Kita melihat luka yang mengering menjadi peta,
Bahwa setiap goresan adalah tanda kita pernah bertahta.
​"Sampai kapan?" tanya sepasang kaki yang mulai lelah.
"Sampai kau mengerti," jawab debu yang hinggap di sela langkah.
Bahwa hidup bukanlah soal tiba di garis akhir dengan mahkota,
Tapi tentang seberapa banyak cinta yang kau tukar dengan air mata.
​Kini, di senja yang mulai membakar cakrawala,
Kita sadar bahwa kita hanyalah tamu di antara dua jendela.
Masuk lewat tangis, pulang membawa hening yang abadi,
Meninggalkan jejak kaki yang perlahan dihapus sunyi.
​Namun lihatlah ke belakang, ke jalan yang telah membentang,
Kau bukan sekadar pejalan, kau adalah cahaya yang menantang terang.
Sebab meski raga akan luruh menjadi tanah dan debu,
Kisahmu telah terukir abadi di tulang punggung waktu.

Paju Epat, 14 Januari 2026

Posting Komentar