INAYAH - Aku Yang Ditempa Jalan (OSN 3.3)
👁️ dibaca

Table of Contents



INAYAH
Aku Yang Ditempa Jalan


Aku tidak tumbuh
aku dibakar.

Hari-hari menjelma palu,
mengetuk namaku di dada waktu,
hingga aku belajar bernapas
di antara serpih luka dan nyala harap.

Langkahku pernah tersesat,
bukan sebab gelap,
melainkan karena cahaya berlebih
memaksaku memilih kebenaran
yang paling menyakitkan.

Aku berdiskusi dengan luka;
ia tak menawarkan obat penawar.
Ia hanya diam dan membisu,
menjadi cermin retak
tempat wajah asliku
akhirnya berani menatap jiwa ini.

Perjalanan ini menitipkan doa-doa mentah,
menguburnya di perut sunyi,
agar kelak tumbuh
sebagai akar kesabaran
yang tak lagi meminta tepuk tangan.

Aku jatuh bukan untuk punah,
melainkan agar jagat raya tahu
aku masih menyimpan api,
meski tubuhku penuh abu.

Waktu
bagaskara yang tak pernah menunggu senja

membakar segalanya perlahan,
meninggalkanku satu warisan:
keberanian berjalan,
meski makna belum sepenuhnya pulang,
namun mengantarkanku
ke lautan kesabaran.

Jika suatu hari aku tiba,
itu bukan karena aku menang,
melainkan karena aku memilih
tetap melangkah
saat semesta menyarankan menyerah.

Tasikmalaya 18 Januari 2025

Posting Komentar