inas ummu rafidah - Hikayat Langkah: Menempa Jejak di Atas Debu Semesta (OSN 3.3)
👁️ dibaca
Table of Contents
Hikayat Langkah: Menempa Jejak di Atas Debu Semesta
Di gerbang fajar yang masih ranum, aku memulai langkah tanpa arah pasti, Membawa ransel berisi mimpi-mimpi kecil dan sebait janji pada diri. Dunia adalah kanvas luas yang menanti goresan warna, Dari jemari yang gemetar, namun menyimpan api yang membara.
Lembah-lembah sunyi seringkali menguji nyali di dalam nadi, Tempat di mana kegagalan dipaksa luruh menjadi sebuah melodi. Setiap kerikil tajam bukan sekadar rintangan yang menyiksa, Melainkan pemahat yang mengukir peta kekuatan di atas jiwa yang lara. Tak ada kompas yang lebih setia daripada degup jantung yang tegar, Di antara jurang keraguan dan langit harapan yang kian berpijar.
Waktu adalah penjahit yang menyatukan perih dan tawa secara rahasia, Menjadi jubah kebesaran bagi mereka yang berani mengeja makna setia. Perjalanan ini bukanlah soal seberapa jauh jarak yang telah kutempuh, Namun tentang berapa kali aku sanggup berdiri saat raga mulai rapuh. Aku terus melaju, melampaui batas cakrawala yang kian nyata, Menjadi cahaya yang akhirnya pulang ke pelukan hangat semesta.
Magelang, 11 Januari 2026
Posting Komentar