Heti Apricha Pradina - Sajadah Sunyi dan Menara Doa (OSN 3.3)
👁️ dibaca

Table of Contents



Heti Apricha Pradina
Sajadah Sunyi dan Menara Doa


Aku adalah perahu kayu yang dipahat badai, berlayar di samudera yang ombaknya tak pernah landai. Layarku sering robek dihantam sauh kegagalan, hingga nyaris karam dalam palung keputusasaan. Duniamu sewarna abu, di mana harapan hanyalah lilin kecil yang ditiup debu.

Namun, di pelupuk mataku, dua bintang tak pernah redup: wajah ayah dan ibu. Ayah adalah akar yang mencengkeram bumi, menopang rantingku agar tak patah. Ibu adalah telaga tenang, tempatku meminum sejuknya doa dalam setiap sujud.

Aku tak boleh berhenti sekarang. Aku bertahan meski sayapku penuh luka, sebab Tuhan sedang merajut fajar yang tak terduga. Setiap tetes air mata adalah benih bunga yang akan bersemi. Doa-doa yang kulangitkan kini tengah menjadi tangga menuju mimpi. Senyum mereka adalah kemenangan abadi yang menanti di ujung sabar ini.

Lampung, 15 Januari 2026

Posting Komentar