DEVANA KHAILA AGISTA HERA WINATA - Litani Angan (OSN 3.3)
👁️ dibaca

Table of Contents


 

DEVANA KHAILA AGISTA HERA WINATA 

Litani Angan


Angan dilahirkan dari rahang yang dipaksa diam,

di sela janji berlapis tanda tangan.

Ia tumbuh di lorong-lorong kota

yang menukar doa dengan angka

dan menyebutnya kebijakan.


Angan tidak bercahaya,

ia jelaga di paru-paru,

mengendap, menghitam,

membuat napas belajar menahan.

Ia ditelan agar tubuh

tidak sepenuhnya tunduk.


Di tanah yang menjual tenaga murah,

angan dihitung sebagai beban,

cepat lelah, mudah diganti.

Ia dipelihara tanpa perlindungan,

lalu ditinggalkan saat retak.


Litani terus diputar,

bukan demi langit,

melainkan agar kebungkaman

tidak sepenuhnya menjelma adat.


Jika angan akhirnya mati,

biarlah bangkainya mengambang

di hadapan kekuasaan,

sebagai bukti

bahwa kejahatan pernah bernapas

atas nama kesejahteraan.


Madiun, 9 Januari 2026

Posting Komentar