Cynthia Syafarani - Riwayat di Telapak Musim (OSN 3.3)
👁️ dibaca
Table of Contents
Riwayat di Telapak Musim
Pada mulanya adalah langkah yang meminjam cahaya fajar
ketika peta belum lagi digambar, dan kompas hanyalah detak jantung
Kita berangkat dengan tas punggung berisi doa-doa yang belum genap
menyusuri garis nasib yang meliuk di antara bukit harap dan lembah senyap
Perjalanan ini bukan tentang seberapa jauh tungkai berpijak
tapi tentang seberapa dalam kita menanam jejak
Ada saat di mana jalanan menjadi cermin yang retak
memaksa kita menatap wajah sendiri di antara kepingan yang berjarak
Kita belajar bahwa luka bukanlah tanda kekalahan
melainkan rasi bintang yang menuntun pulang menuju kedewasaan
Di persimpangan, kita seringkali menjadi pelukis tanpa warna
mencoba mewarnai hari dengan keringat dan air mata yang sama beningnya
Kadang badai datang bukan untuk mematahkan dahan
tapi untuk menguji seberapa kuat akar kita memeluk keheningan
Sebab hidup adalah sekolah yang tak mengenal libur panjang
di mana ujiannya datang lebih dulu sebelum pelajaran sempat dikarang
Lihatlah ke belakang, namun jangan menetap di sana
Masa lalu hanyalah dermaga tua yang sudah kehilangan kapalnya
Kini, di hadapan kita membentang samudera waktu yang tak bertepi
tempat kita harus memilih menjadi ombak yang pecah
atau menjadi karang yang abadi
Pada akhirnya, ketika matahari mulai condong ke barat
dan bayang-bayang mulai memanjang menjemput istirahat
kita akan sadar bahwa tujuan akhir bukanlah sebuah titik di peta
Tujuan itu adalah proses menjadi manusia seutuhnya
yang mampu mencintai luka, mensyukuri debu
dan tetap berjalan meski kaki tak lagi sekuat dulu
Padang, 14 Januari 2026
Posting Komentar