Cahaya Fariz Pranata Luhung - Doa di Atas Bidasan Mimpi (OSN 3.3)
👁️ dibaca

Table of Contents

Cahaya Fariz Pranata Luhung
Doa di Atas Bidasan Mimpi

Di ruang hening, sebelum fajar membelah kelam,
kubuka telapak tangan seperti membuka peta.
Kupungut bayang-bayang yang tercecer di malam,
lalu kujahit menjadi layangan dari kata.

Bukan emas, bukan purnama yang kuminta,
tapi benang-benang halus penuntun jalan.
Agar langkah ini, seperti sungai yang bernyanyi,
tetap mengalir meski bebatuan mengganjal.

Impian ini bagai perahu kertas yang kutitipkan
pada angin yang tak kenal pantai. Biarlah ia
berlayar di antara bintang-bintang yang bergetar,
menemui pulau-pulau yang belum bernama.

Izinkan aku mimpi dengan mata terbuka,
seperti burung yang mempercayai sayapnya
sebelum memahami arti jatuh. Biarkan aku
meminta hujan, meski awan masih belajar menari.

Doaku adalah akar yang merambat dalam diam,
mencari sumber di bawah tanah yang gersang.
Mimpiku adalah biji yang terbang bersama badai,
percaya bahwa tanah asing pun bisa jadi rumah.

Dan bila nanti, di ujung waktu yang berdebu,
kudapati semua pintu masih berkunci—
setidaknya, dalam genggaman yang lelah ini,
masih terselip secercah cahaya yang pernah kuminta.

11 Januari 2026

Posting Komentar