Aditia Tampubolon - Langkah Yang Tak Pernah Kembali (OSN 3.3)
👁️ dibaca
Table of Contents
Langkah Yang Tak Pernah Kembali
Dahulu, dunia hanyalah sekapur sirih dongeng ibu
Kaki mungil berlari mengejar capung di antara ilalang
Menganggap luka di lutut lara paling hebat
Kita adalah raja di kerajaan imajinasi
Di mana tawa merupakan mata uang berharga
Namun, sang kala tak pernah alpa menjemput
Kita dipaksa menanggalkan jubah kepolosan
Melangkah ke belantara penuh dengan prahara
Masa muda adalah medan laga, tempat mimpi beradu realitas
Dan air mata mulai memiliki rasa asin kecewa
Kita belajar bahwa tak semua tanya memiliki jawab
Dan tak setiap pelukan membawa hangat
Kini
Raga telah mendewasa dalam dekap sunyi
Punggung ini telah karib dengan beban
Dan hati telah khatam mengeja arti kehilangan
Kedewasaan bukanlah tentang berhentinya badai
Melainkan ketabahan untuk tetap menari di bawah hujan
Kita pengembara yang pulang pada diri sendiri
Sembari melangkah menuju ufuk kian remang
Deli Serdang, 12 Januari 2026
Posting Komentar