Bening Indah Pinasti - MENGASUH API DI BALIK RUSUK (OSN 3.3)
👁️ dibaca
Bening Indah Pinasti
MENGASUH API DI BALIK RUSUK
Aku tak lagi menitipkan pinta pada langit yang gaduh,
tempat ribuan doa berdesakan lalu menguap sia-sia.
Kulipat ia rapi, kusumbat ke dalam liang dada,
membiarkannya berakar di sana—merayap perlahan
bersama sabar yang paling sunyi.
Bagiku, sebuah tuju bukan telapak yang menengadah
demi segera dipenuhi, melainkan kompas yang kupeluk setia,
meski langkah seringkali dijegal waktu yang kaku.
Aku paham, tidak semua rindu pada jawaban
mesti lunas dalam sekali matahari terbit.
Tuhan sedang menunggu hatiku cukup ranum
agar makna tak lagi diminta, melainkan tiba.
Dalam riuh perjalanan, aku menjaga impian
serupa api kecil di ujung sumbu;
cukup hangat untuk mengusir beku harapan,
cukup tenang agar tak menjilat ambisi yang buta.
Segala harap yang dijaga dengan ikhlas yang tandas,
akan menemukan muaranya sendiri,
tepat saat hidup selesai menimbang:
bahwa bahuku telah layak memanggul jawabnya.
Ampelgading, 9 Januari 2026
Posting Komentar