Badriatun Niswah - Setapak Kaki yang Rapuh (OSN 3.3)
👁️ dibaca
Table of Contents
Setapak Kaki yang Rapuh
beribu kali sayatan semu menghujam tanpa kenal waktu
raga kecil senantiasa tampak bagai gedung kokoh diantara kaki tanah kota
nyatanya perlahan sukmaku teriris tak kenal ampunan
hampir setiap malam insomnia diselimuti rasa takut selalu menghantui,
aku memang terlihat tanpa luka, namun kenyataannya tanpa sadar tubuhku gemetar setiap kali sosoknya mulai menunjukkan sikapnya.
untuk pertama kalinya dalam hidupku aku merasakan ketakutan yang luar biasa hingga rasanya nyaris diambang trauma.
aku tidak menyalahgunakan takdir, bukan pula ingin terjebak dalam palung keputusasaan, tapi ada kalanya aku juga lelah dengan segalanya
sayapku perlahan patah, jiwaku perlahan retak, bahkan sukmaku perlahan binasa. seiring berjalannya waktu, hatiku mulai membeku.
ragaku seolah kehilangan sukmanya, akal sehatku meraung untuk mengakhiri segalanya. ini bukan tentang seekor burung yang mudah menyerah. melainkan seekor burung yang kehilangan sayapnya oleh belati induknya.
jika semesta mengijinkan, aku ingin segalanya berhenti. aku ingin berputar bersama waktu tanpa selimut rasa takut yang bersarang dalam setiap malamku. bagiku, malam adalah ketenangan sekaligus racun paling mematikan.
saat ragaku masih terjebak diantara ayunan dan celah seluncuran, rumah adalah tempat untuk berpulang. namun seiring jarum jam berputar, berubah menjadi kelam. istana kegelapan yang penuh hujaman dan lontaran kalimat pahit.
Demak, 30 Januari 2026
16 komentar
Keren Niswa...