Arumy Wulan Ramadhani - Langit Hitam yang Tak Kunjung Membiru (OSN 3.3)
👁️ dibaca
Table of Contents
Langit Hitam yang Tak Kunjung Membiru
Ia menginjakkan kaki,
pada hari yang tak pernah benar-benar pagi.
Sebab matahari datang,
dengan janji yang terlalu tinggi.
Langit meminjamkan birunya,
lalu menagihnya kembali lewat senyap.
Pagi menyapanya.
Dengan jari-jari kaca,
meminta ia utuh,
sementara hidup memecahkannya.
Jam dinding mengunyah detik dengan lapar.
Mengajarinya dewasa,
sebelum sempat mengerti arti pulang.
Di dalam dadanya,
musim tak pernah menemukan akhir.
Hujan menetap.
Badai menulis alamat di tulang.
Ia menggendong bukit-bukit yang bukan miliknya.
Titipan dunia menimbangnya dengan beban, bukan dengan nadi.
Ia menanam senyum,
pada cermin yang tak berpendapat,
membiarkan lukanya belajar bahasa cahaya.
Angin tahu betul.
Bahwa yang tampak terang,
sering kali lahir dari yang teramat gelap.
Malam memanggilnya,
dengan nama yang dirahasiakan bintang.
Namun gelap tetap berbisik dari balik selimut,
Bertahan.
Sebuah kata yang tumbuh menjadi akar di pergelangan.
Memeluk seperti doa,
mencekik seperti ikat.
Di sela retak, ia menemukan benih kecil yang berdenyut.
Sebutir benih yang menolak mati,
meski ditimbun sepi.
Dunia ingin menjadikannya besi agar tak terasa,
namun ia memilih menjadi cahaya yang gemetar.
Rapuh,
namun mencoba menolak padam.
Jatinangor, 15 Januari
6 komentar