Annisa Faradilah Hasan - Keheningan Luka yang Abadi (OSN 3.3)
👁️ dibaca
Table of Contents
Keheningan Luka yang Abadi
Setiap jalan yang telah kulewati,
hanya debu yang setia menemaniku.
Aku sendiri, bersama goresan-goresan
di relung hati
yang perlahan merenggut jiwaku.
Goresan itu menjeratku
dalam sebuah ruangan gelap.
Di sana,
aku berjalan tanpa suara,
membiarkan waktu berlalu
tanpa benar-benar menoleh.
Aku selalu mengenang masa itu,
masa ketika aku harus diam membisu-
diam agar tetap bertahan
di bawah terik matahari
yang membakar ragaku.
Sebab berbicara
sering kali lebih menyakitkan
daripada memendam.
Teriakan, cemohan, dan amarah
menembus jantungku,
tepat pada inti ragaku,
meninggalkan luka
yang menjalar ke jiwaku.
Luka itu terpatri,
menjadi jejak
yang belajar bersembunyi.
Semua terjadi
tanpa ada yang sungguh menghiraukan.
Mereka melihat,
namun berpura-pura tak melihat.
Keheningan pun tumbuh,
menjadi saksi setia.
Dan aku masih di sini,
berjalan bersama luka,
tanpa suara-
hening,
dalam keheningan yang abadi.
Probolinggo, 21 Januari 2026
Posting Komentar